Islam di ‘air yang tenang’
Fathi Aris Omar : Tiada Noktah
The political processes of all nations are wider and deeper than the formal institutions designed to regulate them; some of the most critical decisions concerning the direction of public life [….] are made in the unformalized realms of what [Emile] Durkheim called ‘collective conscience’…. – Clifford Geertz, The interpretation of cultures (2000: 316)
Rumusan Geertz, ahli antropologi tersohor Amerika Syarikat, ini tidaklah baru. Gianbattista Vico, seorang pemikir Itali pada abad ke-19, pernah merungut: “homo non intelligendo fit omnia.” Maksudnya kira-kira, “manusia menjadi dirinya seperti hari ini tanpa memahami apa yang berlaku (yang telah membentuknya)”.
Demokrasi dan Islam, tidak terkecuali. Sama ada sekular atau agama, ideologi politik terjaring dalam satu himpunan faktor pengaruh yang cukup kompleks untuk dikenali kecuali dengan kesedaran, penelitian dan renungan yang mendalam. Kalau kita jujur, sejarah idea demokrasi dan Islam, dalam konteksnya di negara ini, haruslah disemak kembali agar kita tidak terserempak dengan ‘buaya di air yang tenang.’ (more…)


